Istana Khudayar Khan Di Lembah Fergana, Uzbekistan

Selain sebagai travel blog, Sibukliburan. id juga merupakan travel agent liburan terpercaya baik di dalam dan luar negeri. Mulai didirikan sejak 2017 lalu, Sibuk Liburan telah banyak mengantarkan para traveler melancong ke berbagai penjuru Indonesia dan dunia. Kemegahan istana tersebut pun sempat disebut dalam sebuah memoir seorang diplomat Amerika Serikat yang ditugaskan di wilayah Rusia dan Asia Tengah pada 1867, yaitu Eugene Schuyler. Dikisahkan dalam memoir itu bahwa istana tersebut jauh lebih besar dan megah ketibmang istana Khanate di wilayah yang lain.

https://www.hayatuntour.com/paket/rihlah-peradaban-rusia-uzbekistan-kazan-chechnya-15d/ – Untuk mendapat perlindungan dari gigitan angin musim dingin, saya bermalam di hostel milik Ibu Aoliya dengan merogoh kocek 125 ribu som (sekitar 215 ribu rupiah). Penginapan milik perempuan yang jalannya tak pernah tergesa-gesa itu terletak di Lyabi Hauz Complex, salah satu kawasan penting dalam sejarah jalur sutra di Bukhara. Saya menyusuri gang-gang kecil bak labirin yang terbuat dari tembok tua berwarna coklat untuk mencapainya.

Kami bergerak dari hostel Sarrafon yang dulu terletak di kawasan komunitas yahudi. Pada abad 12 hingga 13, memang banyak orang Yahudi hidup di Bukhara. Mereka mengembangkan budaya mereka sendiri dengan bahasanya sendiri. Hidup di tengah budaya Persia namun menggunakan alfabet Ibrani.

Menurut sejarah, bangsa Uighur merdeka telah tinggal di Uighuristan lebih dari 2 . 000 tahun. Tapi China mengklaim daerah itu warisan sejarahnya, dan oleh karenanya tak dapat dipisahkan dari Cina. Orang Uighur percaya, fakta sejarah menunjukkan klaim Cina tidak berdasar dan sengaja menginterpretasikan sejarah secara salah, untuk kepentingan ekspansi wilayahnya.

Beberapa dekade yang dipenuhi kemiskinan dan peraturan otokratis telah membuat masyarakat Asia Tengah—yang merupakan rumah bagi 70 juta orang—siap untuk perekrutan ISIS. Memiliki mahasiswa, mitra, dan alumni dari 28 negara, seluruh wilayah Indonesia, dan dari berbagai suku dan agama. Silk Roadatau Jalur Sutera yang merupakan lintasan perdagangan antara Asia (Cina) ke Eropa (Roma) dan Timur Tengah sudah mulai terbentuk sejak Dinasti Han (202 SM M).

Ternyata harganya tidak begitu mahal dan wajar untuk tiga jenis makanan, 40 ribu som atau 69 ribu rupiah. Saat saya masuk ke dalam, beberapa orang tengah menyiapkan barang dagangan keramik, lukisan, tenun hingga karpet. Ruang-ruang yang dulunya sebagai akomodasi dan tempat belajar diubah menjadi kios-kios resmi pedagang cenderamata. Satu halaman besar yang dikelilingi bangunan, terlihat meja dan kursi kayu yang ditemukan sebagai tempat mengobrol ataupun minum teh bagi pengunjung.

“Bangunan ini jauh lebih besar dan megah dari berbagai istana Khanate yang lain di Asia Tengah. Semua ubin keramik istana ini tersusun sangat indah, berkilauan, memancarkan warna cerah biru, kuning, dan hijau, ” ungkapnya dalam memoar tersebut. Sebelum masuknya Islam, Uighur menganut Shamanian, Budha dan Manicheism. Saat ini, bisa dilacak candi yang dikenal sebagai Ming Oy (Seribu Budha) di Ughuristan. Reruntuhannya ditemui di kota Kucha, Turfan dan Dunhuang, dulunya tempat tinggal orang Kanchou-Uighur.

Mereka berhasil menjadi pemain utama dalam perdagangan Bukhara, terlepas dari diskriminasi yang mengakar dan melembaga. Pasar di Bukhara terdiri atas tiga bangunan yang sambung menyambung, tapi memiliki tiga nama yang berbeda. Toqi Sarrofon Bazaar, merupakan pasar tempat penukaran mata uang bagi pedagang lintas negara. Toqi Telpak Forushon khusus tempat menjual dan pembuatan topi, sementara yang terakhir Toqi Zargaron, perhiasan seperti mutiara, permata, emas, perak dan tempat pemandian umum hammam. Bagi saya pribadi, ini bukan sebuah kebodohan tapi cara melihat sejauh mana orang berperilaku jujur.

Sebuah kemewahan tersendiri bisa berdiri melihat jejak peradaban kota Bukhara dari atas. Di tengah keramaian di jalanan Bukhara, sejumlah orang melihat dan mengomentari tas ransel saya yang digelantungi gembok-gembok kecil di bagian ritsleting. Suatu kebiasaan yang saya bawa dari Jakarta untuk mencegah “keisengan” para pencuri jalanan.

Pada musim semi ataupun panas, halaman ini dimanfaatkan sebagai ruang terbuka pertunjukan tari dan musik tradisional Uzbekistan untuk menghibur pengunjung. “Assalamualaikum, ” saya mencoba menyapa orang lokal yang melintas sambil meletakan tangan kanan ke dada kiri dan badan sedikit membungkuk. Ini adalah cara atau kebiasaan yang santun bagi masyarakat Uzbekistan untuk menyapa, khususnya orang tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *